Selama ini berfikir kritis selalu berkiblat pada pemikiran Eropa seperti Horkheimer atau Habermas lewat Critical Thought-nya German Ideology atau Marx-Engels lewat Materialisme Dialektik Historisnya, atau yang lain seperti Gramsci misalnya. Pendekatan kritis lebih baru ada itu Pierre Bourdieu atau Foucault, dan lainnya. Kalau di Akuntansi ada Tony Tinker, Bryer atau Puxty, dan lainnya. Saya tidak melihat berfikir kritis seperti itu kecuali hanya melakukan "copy paste" dari tokoh-tokoh Barat, dan kita seperti tidak berdaya atas serangan Orientalisme Berfikir yang menjangkiti Ke-Indonesia-an kita. Mengapa tidak menggali langsung dari tokoh-tokoh nasional? Saya menganggap tokoh-tokoh seperti Hidajat Nataatmadja, Sudjatmoko, Armahedi Mahzar, Kuntowijoyo, Kahrudin Yunus, Hamka, atau yang akan saya kupas sekarang HOS Tjokroaminoto pemikirannya tidak kalah dan bahkan "lebih" cerdas dari Eropa atau Barat Sentris.